Berikut versi rapi dan enak dibaca dengan gaya opini reflektif, alur diperhalus tanpa mengubah substansi dan sudut pandang penulis:
SUMBAR WAHANANEWS.CO, Pariaman - Penyanyi Minang asal Padang Pariaman, Fauzana, kembali disomasi oleh pencipta lagunya, Rozac Tanjung. Ini adalah somasi kedua yang dilayangkan kepadanya. Konon, hingga lima album Fauzana merupakan karya ciptaan Rozac Tanjung. Sebuah kontribusi yang tentu tidak kecil dan layak dihargai.
Baca Juga:
Rozac Tanjung Tegaskan Somasi Bukan Larangan, Melainkan Soal Hak Pencipta
Dalam somasi terbaru ini, Fauzana diminta tidak lagi menyanyikan lagu-lagu ciptaan Rozac Tanjung. Fauzana sendiri mengaku telah mematuhi larangan tersebut sejak somasi pertama, dan baru angkat bicara setelah somasi kedua dilayangkan.
Ada nada getir dalam respons Fauzana. Ia dilarang menyanyikan lagu-lagu yang memang bukan ciptaannya, tetapi menjadi populer justru karena dirinya. Di titik inilah pertanyaan klasik muncul: apa arti sebuah lagu tanpa penyanyi yang mampu menghidupkannya?
Dalam industri musik, penyanyi dan pencipta lagu saling membutuhkan. Akan lebih sempurna bila keduanya bersatu dalam satu sosok. Kita mengenal nama-nama besar seperti Iwan Fals, Rhoma Irama, Ariel, dan banyak lainnya - penyanyi sekaligus pencipta lagu yang hebat. Mungkin, ke depan Fauzana juga perlu menempuh jalan serupa agar bisa bertahan lebih mandiri.
Baca Juga:
Perkuat Ketahanan Nasional, Kemenperin Arahkan Pengembangan Kawasan Industri Tematik Selaras PSN
Namun bahkan penyanyi-pencipta lagu sekalipun, tetap kerap menyanyikan karya orang lain. Itu hal yang wajar. Masalah muncul ketika relasi berubah menjadi hitung-hitungan, ketika ada yang merasa ditinggalkan, dan ada pula yang merasa paling berjasa.
Antara Rozac Tanjung dan Fauzana, jelas ada persoalan yang tidak sepenuhnya diketahui publik. Ironisnya, justru nama Rozac Tanjung baru dikenal luas publik sebagai pencipta lagu Fauzana setelah dua kali somasi ini muncul.
Di situlah berlaku apa yang bisa disebut sebagai hukum besi industri hiburan, bahkan hukum kehidupan. Orang jarang mengingat petani yang menanam, tetapi lebih mengenal pedagang yang menjual. Petani tetap miskin, pedagang bisa kaya raya.