SUMBAR.WAHANANEWS.CO, Pariaman - Klarifikasi akhirnya disampaikan oleh Bang Rozac Tanjung terkait somasi yang sempat dilayangkan kepada penyanyi Minang Fauzana. Klarifikasi ini sejatinya menggambarkan pesan yang sama dengan judul lagu “Panek dek Awak, Kayo dek Urang” - sebuah sindiran halus tentang ketimpangan antara pencipta karya dan pihak yang menikmati hasil panggung.
Inti persoalan yang disampaikan Bang Rozac Tanjung sebenarnya sederhana. Ia tidak pernah melarang Fauzana menyanyikan karya-karyanya, baik di panggung maupun dalam aktivitas seni lainnya. Yang ia harapkan hanyalah izin dan kesepakatan yang adil, agar pencipta lagu juga memperoleh sebagian kecil rezeki dari karya yang telah menghidupi banyak orang.
Baca Juga:
Polemik Fauzana dan Rozac Berlanjut, Soal Royalti Lagu Kembali Mengemuka
Menurut Bang Rozac, sudah selayaknya pencipta lagu tidak hanya dipuji saat karyanya populer, tetapi juga dihargai secara ekonomi. Terlebih, lagu-lagu tersebut turut mengantarkan artis ke berbagai panggung dan undangan.
Namun, di sisi lain, Fauzana memilih jalan berbeda. Ia memutuskan untuk tidak lagi membawakan lagu-lagu ciptaan Bang Roza Tanjung, dengan keyakinan bahwa tanpa lagu-lagu tersebut pun ia tetap bisa manggung dan masih banyak pihak yang membutuhkan jasanya sebagai penyanyi.
Pilihan ini tentu sah sebagai keputusan profesional. Namun sayangnya, perbedaan sudut pandang tersebut justru berkembang menjadi isu publik dan viral, yang berpotensi menimbulkan kesalahpahaman di dunia seni Minangkabau.
Baca Juga:
BMKG: Kalimantan Selatan Berpotensi Hujan, Kilat, dan Angin Kencang Hari Ini
Sebagai penikmat seni dan bagian dari komunitas budaya, penulis berharap persoalan ini dapat diselesaikan dengan kepala dingin dan hati lapang. Dunia seni akan jauh lebih indah jika diwarnai oleh silaturahmi, saling menghargai, dan saling menguatkan, bukan saling menjauh.
Semoga Bang Rozac Tanjung dan Fauzana dapat kembali akur, duduk bersama, dan menemukan titik temu. Karena pada akhirnya, seni bukan sekadar soal panggung dan popularitas, tetapi juga soal adab, penghargaan, dan keberkahan bersama.
Mari jaga dunia seni Minang tetap teduh, bermartabat, dan saling menghidupi.