Menurut Desi, dengan kelangkaan pupuk saat ini, maka salah satu alternatif adalah gencar membuat pupuk organik untuk memenuhi unsur hara bagi pertumbuhan tanaman agar peningkatan produksi dapat tercapai.
"Pupuk organik itu juga diperlukan untuk kesehatan tanah. Maka dari itu diperlukan pemupukan berimbang agar budi daya pertanian dapat berkembang dengan baik," kata Dedi.
Baca Juga:
Dilema Cinta dan Uang, ‘Dopamin’ Sajikan Drama Rumah Tangga Penuh Ketegangan
Setelah mengikuti Sekolah Lapang (SL), IPDMIP melakukan pembinaan kepada petani, di mana salah satu materinya adalah belajar membuat pupuk organik.
PPL Kecamatan Luak, Hidayati dan Koordinator BPP kecamatan Luak Riza Afrina begitu semangat menganjurkan pembuatan pupuk kompos. Bersama kelompok tani yang berada di Nagari Mungo, mereka menggerakkan masyarakat untuk berlomba membuat kompos dari kotoran sapi. Sebab, para petani memiliki modal berupa minimal 1 ekor sapi.
Melalui gerakan ini yang dinamai "Mungo Mengompos", masyarakat Mungo menjelma menjadi penghasil kompos untuk memenuhi kebutuhan akan unsur hara untuk kebutuhannya sendiri. [rda]