Wahyu yang benar akan selaras dengan hukum alam.
Jadi, wahyu yang benar akan lolos uji akal dan fakta.
Baca Juga:
Tradisi Filsafat Timur dan Barat
Di titik ini, rasionalisme memastikan agama tidak menjadi takhayul, sementara empirisme memastikan agama tidak menjadi sekadar filsafat abstrak.
2. Sains, Sebab-Akibat, dan David Hume
David Hume (1711--1776) dalam bukunya An Enquiry Concerning Human Understanding. Hume-seorang empiris-menyatakan kita tidak pernah benar-benar melihat "sebab-akibat", hanya kebiasaan: api menyentuh tangan tangan terasa panas. Apakah api "menyebabkan" panas? Atau hanya pola berulang?
Baca Juga:
Dialektika: Dari Socrates hingga Hegel
Saya merenungkan secara mendalam pandangan Hume. Di sana, saya menemukan sebuah ruang kosong yang sulit dijelaskan secara tuntas: Apakah kebiasaan semata dapat melahirkan pengetahuan? Bisakah kebiasaan berubah menjadi hukum? Dan apakah setiap hukum selalu menuntut pembuktian ilmiah?
Kalau semua hanya dianggap kebiasaan, sains akan rapuh. Namun, jika semua dipandang sebagai hukum mutlak, akal berhenti bertanya. Empirisme memaksa sains untuk tetap rendah hati, sementara Rasionalisme memastikan hukum ilmiah tidak terjebak menjadi sekadar statistik.
3. Etika dan Moral: Bisa Diuji atau Harus Dirasakan?