SUMBAR.WAHANANEWS.CO, Kota Bengkulu – Sejak awal filsafat, manusia terbagi dalam dua kubu besar saat mencari kebenaran.
Empirisme, percaya pada pengetahuan yang lahir dari pengalaman indera. Dunia nyata adalah sumber utama pengetahuan.
Baca Juga:
Tradisi Filsafat Timur dan Barat
Rasionalisme, percaya pengetahuan sejati lahir bukan dari pengalaman empiris. Ia berasal dari akal, ide bawaan, dan logika yang menjadi fondasi kebenaran.
Dua kubu ini membentuk hampir semua perdebatan ilmu, dari sains, agama, hingga moral. Bagi saya, keduanya tidak perlu menimbulkan pertentangan--tapi dua alat itu sama-sama penting dan harus dipakai bersama, agar akal tidak buta oleh pengalaman mentah atau oleh ide yang kosong.
1. Refleksi Pribadi Saya (melalui debat dan kerja akal): Empirisme vs Rasionalisme dalam Kebenaran Agama
Baca Juga:
Dialektika: Dari Socrates hingga Hegel
Pernah saya mengatakan: "Jika semua kebenaran hanya berdasar pengalaman indera, maka wahyu akan dianggap mitos. Tapi jika semua kebenaran hanya berdasar ide akal, maka alam nyata tidak akan dihargai. Karena itu, agama yang benar harus bertahan di dua ranah: diuji dengan akal dan dikuatkan oleh realitas."
Contoh silogisme yang saya gunakan saat debat lintas iman:
Semua kebenaran sejati tidak mungkin bertentangan dengan realitas.
Wahyu yang benar akan selaras dengan hukum alam.
Jadi, wahyu yang benar akan lolos uji akal dan fakta.
Di titik ini, rasionalisme memastikan agama tidak menjadi takhayul, sementara empirisme memastikan agama tidak menjadi sekadar filsafat abstrak.
2. Sains, Sebab-Akibat, dan David Hume
David Hume (1711--1776) dalam bukunya An Enquiry Concerning Human Understanding. Hume-seorang empiris-menyatakan kita tidak pernah benar-benar melihat "sebab-akibat", hanya kebiasaan: api menyentuh tangan tangan terasa panas. Apakah api "menyebabkan" panas? Atau hanya pola berulang?
Saya merenungkan secara mendalam pandangan Hume. Di sana, saya menemukan sebuah ruang kosong yang sulit dijelaskan secara tuntas: Apakah kebiasaan semata dapat melahirkan pengetahuan? Bisakah kebiasaan berubah menjadi hukum? Dan apakah setiap hukum selalu menuntut pembuktian ilmiah?
Kalau semua hanya dianggap kebiasaan, sains akan rapuh. Namun, jika semua dipandang sebagai hukum mutlak, akal berhenti bertanya. Empirisme memaksa sains untuk tetap rendah hati, sementara Rasionalisme memastikan hukum ilmiah tidak terjebak menjadi sekadar statistik.
3. Etika dan Moral: Bisa Diuji atau Harus Dirasakan?
Dalam diskusi tentang standar moral, saya berkata: "Kalau moral hanya diuji lewat data pengalaman, ia berubah-ubah sesuai budaya. Tapi kalau hanya berdasar akal, ia bisa jadi kejam dan dingin."
Contoh argumen saya:
Semua standar moral yang benar harus bisa diterima akal sehat.
Semua standar moral yang benar harus bisa diterima pengalaman manusia (tidak merusak kehidupan).
Jadi, standar moral yang benar harus lulus uji akal dan pengalaman.
Untuk artikel lengkap: Empirisme vs Rasionalisme: Dua Jalan Mencari Ilmu
[Redaktur: Ramadhan HS