SUMBAR.WAHANANEWS.CO, Kota Bengkulu –
BAB I - Sejarah dan Asal-usul Filsafat Timur dan Barat
Baca Juga:
Dialektika: Dari Socrates hingga Hegel
1.1. Konteks Geografis dan Budaya
Filsafat, dalam pengertian klasik sebagai philosophia (philosopha:"kecintaan pada kebijaksanaan"), muncul di beberapa pusat peradaban dunia yang berbeda namun hampir bersamaan dalam rentang milenium pertama sebelum Masehi. Tradisi Barat berakar di dunia Yunani kuno, terutama di wilayah Ionia (Asia Kecil) dan daratan Yunani (Athena), pada abad ke-6 hingga ke-4 sebelum Masehi. Tokoh awal seperti Thales dari Miletus (624-546 SM) memulai penjelasan kosmos dengan prinsip alamiah (arch) tanpa bergantung pada mitos, suatu pergeseran mendasar dari narasi religius menuju pendekatan rasional dan empiris. Dari garis keturunan intelektual ini lahir Socrates, Plato, dan Aristoteles yang kemudian membentuk kerangka rasionalitas Barat.
Sebaliknya, di Timur, pencarian hakikat realitas dan kebijaksanaan lahir bahkan lebih awal melalui teks-teks Weda di India (sekitar 1500 SM) dan ajaran awal Tiongkok yang dirumuskan oleh Konfusius (551-479 SM) serta Laozi (sekitar abad ke-6 SM). Universitas kuno seperti Takail (Taxila) dan Nland di India, aktif sejak setidaknya abad ke-5 Masehi, telah menjadi pusat kajian logika, metafisika, dan meditasi Buddhis dan Hindu. Sementara itu, Akademi Jixia () di Negara Qi (sekitar abad ke-4 SM) berperan sebagai forum pertemuan ratusan pemikir dari aliran Konfusianisme, Mohisme, Taoisme, hingga Legalisme. Tradisi Timur secara umum lebih menekankan harmoni kosmik, etika sosial, dan pembinaan batin, namun juga memiliki sistem logika dan epistemologi yang ketat, khususnya dalam aliran Nyya dan Buddhisme India.
Baca Juga:
Dialektika: Dari Socrates hingga Hegel
1.2. Genealogi Filsafat Barat
Tradisi filsafat Barat secara klasik dimulai dari apa yang disebut para sejarawan sebagai pre-Socratics, yaitu para filsuf alam seperti Thales, Anaximandros, dan Herakleitos. Fokus mereka pada prinsip alamiah menjadi landasan berkembangnya sains dan metafisika. Socrates (469-399 SM) kemudian mengalihkan fokus filsafat ke bidang etika dan epistemologi, dengan penekanan pada dialog dialektis (elenchus), sebagaimana direkam oleh Plato dalam dialog Apologia di mana Socrates berkata:
(ho de anextastos bos ou bits anthrp, "kehidupan yang tidak diperiksa tidak layak dijalani").
Plato (427-347 SM) mendirikan Akademia di Athena sekitar 387 SM, institusi pendidikan filsafat pertama yang berorientasi sistematis. Ia memperkenalkan Theory of Forms dan memandang kebenaran tertinggi berada pada dunia ide. Aristoteles (384-322 SM), murid Plato, mendirikan Lyceum (335 SM) dan menyusun Organon, kumpulan risalah logika yang memformalkan silogisme tiga langkah-yang kemudian menjadi model penalaran deduktif di Eropa selama lebih dari dua milenia. Dalam Metafisika, Aristoteles menulis:
(pntes nthrpoi tou eidenai orgontai physei, "semua manusia secara alami mendambakan pengetahuan").