Logika bagi saya adalah kompas akal: jika kebenaran tidak bisa diverifikasi dengan logika, maka ia bukan kebenaran, hanya keyakinan rapuh. Tetapi logika sendiri tidak boleh jadi tiran; ia harus mengakui batasnya, karena ada hal-hal yang berada di luar jangkauan akal manusia.
Aristoteles menyusun dasar logika formal yang dipakai hingga kini. Di dunia Islam, Al-Farabi dan Ibn Rushd (Averroes) menggabungkan logika dengan teologi, agar akal bisa berdampingan dengan wahyu- bukan saling meniadakan tapi melengkapi dan menyelaraskan.
Baca Juga:
Tradisi Filsafat Timur dan Barat
Bagi saya, logika adalah alasan filsafat tetap relevan. Ia bukan sekadar teori, tapi keterampilan yang bisa dipakai di mana saja: debat publik, menganalisis berita, bahkan memahami agama dan politik dan pertentangan ideologisme.
4. Etika: Bagaimana Seharusnya Kita Hidup?
Etika adalah cabang yang membahas moral. Pertanyaan-pertanyaannya sederhana tapi sulit:
Baca Juga:
Dialektika: Dari Socrates hingga Hegel
Apa yang benar dan salah?
Apakah moral bersifat universal atau tergantung budaya?
Apakah tujuan hidup manusia hanya kebahagiaan, atau ada yang lebih besar?