Di titik ini, saya selalu bertanya: "Apa itu benar? Apakah kebenaran lahir dari akal murni, atau dari pengalaman inderawi (empiris)? Apakah ia mutlak dan tunggal?atau apakah manusia hanya bisa mendekatinya? Lalu muaranya: siapa yang berhak memonopoli tafsir kebenaran?"
Banyak filsuf berusaha menjawabnya. Descartes percaya pada akal murni sebagai sumber kepastian: "Aku berpikir, maka aku ada." David Hume di sisi lain menegaskan bahwa semua pengetahuan lahir dari pengalaman, bukan ide bawaan. Dari dunia Islam, Al-Ghazali memulai dengan keraguan, namun akhirnya menyimpulkan bahwa kepastian bukan hanya dari akal atau indera, tapi juga dari cahaya ilahi yang menuntun kebenaran sejati.
Baca Juga:
Tradisi Filsafat Timur dan Barat
Dalam dunia modern yang penuh hoaks atau misspersepsi, epistemologi menjadi senjata utama. Ia mengajarkan kita memilah pengetahuan: mana yang berbasis bukti, mana yang hanya opini. Tanpa epistemologi, kita mudah terseret arus informasi tanpa tahu apa yang valid.
3. Logika : Tulang Punggung Semua Filsafat
Logika adalah alat kerja filsafat. Tanpa logika, semua argumen hanya jadi tumpukan kata. Dengan logika, kita bisa:
Baca Juga:
Dialektika: Dari Socrates hingga Hegel
Menyusun premis dan argumen yang sahih.
Menghindari kesalahan berpikir (fallacy).
Menarik kesimpulan yang konsisten.