Sebagai disiplin formal, logika pertama kali disusun oleh Aristoteles (384-322 SM) dalam karya "Organon". Ia memperkenalkan silogisme, cara menyusun argumen berdasarkan premis yang membawa pada kesimpulan yang sahih. Contoh klasiknya:
Semua manusia akan mati (premis mayor).
Baca Juga:
Tradisi Filsafat Timur dan Barat
Socrates adalah manusia (premis minor).
Maka Socrates akan mati (kesimpulan).
Struktur sederhana ini menjadi fondasi formal dalam berpikir ilmiah dan filosofis selama lebih dari dua ribu tahun.
Baca Juga:
Dialektika: Dari Socrates hingga Hegel
Logika kemudian berkembang di dunia Islam. Al-Farabi dan Ibn Sina (Avicenna) mengembangkan logika Aristotelian agar bisa berdialog dengan teologi, sementara Ibn Rushd (Averroes) menegaskan bahwa akal dan wahyu tidak bertentangan jika didekati dengan metode logis yang benar. Di sinilah logika tidak hanya jadi alat ilmu, tapi juga benteng keimanan dari kebodohan dan fanatisme buta.
Memasuki era modern, logika berkembang menjadi logika simbolik dan matematika. Gottlob Frege dan Bertrand Russell membawa logika ke ranah formal dengan simbol, yang kelak menjadi dasar bagi komputer dan kecerdasan buatan (AI). Kini, logika bahkan menjadi tulang punggung teknologi digital, meski esensinya tetap sama: logika ada agar akal manusia tidak menipu dirinya sendiri.
Apakah logika=kebenaran itu sendiri?