SUMBAR.WAHANANEWS.CO, Kota Bengkulu – Silogisme adalah salah satu alat tertua dalam logika untuk menemukan kebenaran. Ia pertama kali disistematisasi dalam tradisi filsafat klasik, lalu menjadi dasar berpikir rasional dalam berbagai bidang--dari sains, agama, hingga politik. Dengan silogisme, manusia bisa menyusun pengetahuan secara terstruktur: dari premis-premis yang benar, kita menarik kesimpulan yang valid.
Bagi para filsuf, silogisme bukan sekadar permainan kata-kata indah dan rumit- tetapi lebih kepada kemampuan akal memastikan kesimpulan agar tidak terjadi kesalahan berpikir. Tradisi ini diajarkan di jurusan-jurusan filsafat besar kampus top dunia maupun di Indonesia, seperti Departemen Filsafat Universitas Indonesia dan Filsafat UGM.
Baca Juga:
Tradisi Filsafat Timur dan Barat
Namun, silogisme bukan hanya milik akademisi. Di dunia penuh informasi, hoaks, dan debat kosong, silogisme adalah senjata agar akal tidak dikuasai emosi dan opini liar. Manusia, asalkan dia berakal dan menggunakannya dengan tepat maka ia sudah ber-silogisme.
Lalu, Apa Itu Silogisme?
Silogisme adalah cara penalaran misalnya: deduktif: dari dua atau lebih premis (pernyataan) yang benar, kita menarik kesimpulan yang logis. Rumus paling sederhana:
Baca Juga:
Dialektika: Dari Socrates hingga Hegel
Semua manusia akan mati. (Premis mayor)
Socrates adalah manusia. (Premis minor)
Jadi, Socrates akan mati. (Kesimpulan)
Contoh sederhana ini tampak remeh, tetapi di sinilah logika bekerja: kebenaran kesimpulan tidak tergantung siapa yang bicara, tetapi pada struktur argumen. Premis yang benar pasti akan menghasilkan kesimpulan yang benar pula.
Tanpa silogisme, diskusi akan selalu berakhir pada "katanya", "menurut saya", atau "percaya saja" dan berakhir pada subjektifitas semata tanpa melalui proses uji logika.
Enam Bentuk Silogisme Penting (Dengan Contoh)
Selain bentuk klasik, ada variasi silogisme yang sering digunakan dalam filsafat, debat, dan kehidupan sehari-hari.
Silogisme Kategoris (Paling Dasar)
Semua nabi membawa risalah.
Musa adalah nabi.
Jadi, Musa membawa risalah.
Silogisme Hipotetik (Kondisional)
Jika kitab suci benar, maka ajarannya konsisten.
Ajarannya konsisten.
Jadi, kitab suci itu benar (valid jika premis awal sahih).
Silogisme Disjungtif (Pilihan)
Dunia fana atau abadi.
Dunia tidak abadi.
Jadi, dunia fana.
Silogisme Relasional (Hubungan Sebab-Akibat)
Semua yang diciptakan punya pencipta.
Alam semesta diciptakan.
Jadi, alam semesta punya pencipta.
Silogisme Reduksi ad Absurdum (Membuktikan dengan Kontradiksi)
Jika tidak ada kebenaran, maka pernyataan "tidak ada kebenaran" juga salah.
Kontradiksi muncul.
Jadi, kebenaran itu ada.
Silogisme Enthymeme (Sering Dipakai Rocky Gerung)
Premisnya sering disembunyikan agar argumen tampak tajam.
Contoh gaya Rocky:
"Demokrasi tanpa oposisi itu otoriter."
(Premis tersembunyi: oposisi adalah syarat demokrasi).
Kesimpulan muncul tanpa dijelaskan panjang, tetapi tetap logis.
Untuk artikel lengkap: Silogisme: Seni Menyusun Kebenaran
[Redaktur: Ramadhan HS]